Sebagai hamba Allah swt. kita diwajibkan untuk tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya dan juga menjauhi segala yang dilarang. Hal tersebut yang membuat kita menjadi terbiasa melakukan hal yang positif dan sangat janggal apabila kita sudah melakukan hal yang negatif. karena perintah dari Allah yang membentuk diri kita sehingga terbiasa melakukan ibadah dan hal baik lainnya sehingga kesalahan yang kita buat membuat hati kita selalu merasa bersalah walaupun tak terucap dalam bibir.
Hati manusia bagaikan pantulan di permukaan air, terkadang mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak bersesuaian dengan hati. Pada saat itu pun hati kita merasa tidak nyaman, seperti ada hal yang mengganjal yang seharusnya tidak kita lakukan. Hati yang seperti itu adalah hasil pembentukan dari pembiasaan diri kita terhadap hal-hal yang positif yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah Swt,.
Dalam ibadah, membiasakan diri dalam hal yang positif disebut dengan istiqomah. Namun apakah karena hal tersebut akhir hidup bisa husnul khatimah atau malah suul khatimah? Hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui. Tentunya kita semua sebagai umat Islam menginginkan akhir yang baik, Setiap manusia pasti akan merasakan kematian, jika kematian itu sudah ditentukan maka kita tidak akan bisa mempercepat atau menundanya. Namun cara Allah swt. mengambil nyawa seseorang itu berbeda-beda, tergantung apa yang kita kerjakan di akhir hayat itu baik atau tidak. Maka dalam Islam akhir yang baik bagi seseorang yang meninggal dunia disebut Husnul Khatimah dan akhir kehidupan yang tidak baik disebut Suul Khatimah. Kita juga berharap mudah-mudahan Allah mencabut nyawa kita pada saat kita melakukan hal yang positif atau ketika kita sedang menunaikan ibadah yang kita istiqomahkan.
Di samping itu juga tidak boleh jumawa atas ibadah yang sudah kita lakukan, jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, karena setan tidak akan pernah berhenti menggoda dengan memperdaya hamba Allah sampai kapanpun. Hal tersebutlah yang bisa membuat kita bisa menjadi suul khatimah lantaran kita sudah merasa paling baik dan paling benar.
Semakin giat seseorang dalam ibadahnya maka akan semakin besar pula ujiannya, jangan sampai kita termakan rayuan setan sehingga kita bisa terjatuh ke jurang kesengsaran yang tidak kita inginkan. Maka dari itu semakin tinggi derajat seseorang haruslah hatinya semakin tawadhu (rendah hati). Jika ibadah yang kita lakukan tidak dibarengi dengan hati yang tawadhu maka akan timbul sifat sombong yang akan dimanfaatkan oleh setan sehingga kita akan masuk ke golongan mereka. Naudzu billahi min dzalik.
1 comments:
Write commentsMantap, lanjutkan pak badru
Reply