Literasi Edukasi

Muslim, Mukmin dan Muhsin


    Islam merupakan bentuk mashdar dari kata aslama-yuslimu-islaaman, yang artinya tunduk, taat, patuh dan berserah diri. Tunduk, taat, patuh dan berserah diri seseorang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan hatinya. Perbedaan tersebut membuat seseorang memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda pula si hadapan Allah Swt. 

    Tingkatan atau derajat seorang hamba dihadapan Allah Swt. itu berbeda-beda jenisnya. Jenis-jenis tingkatan hamba sudah sangat umum kita dengarkan, yaitu muslim, mukmin dan muhsin. Namun banyak dari kita yang memahami istilah tersebut hanya secara harfiah yaitu :

1. Muslim artinya orang Islam atau orang yang beragama Islam dan juga bisa dikatakan orang yang menjalankan rukun Islam sebagai kewajiban saja. Muslim merupakan objek sedangkan Islam adalah sifatnya.
2. Mukmin artinya orang yang beriman atau bisa juga dikatakan yang mengamalkan rukun iman. Mukmin adalah objek dan Iman itu sifatnya.
3. Muhsin artinya orang yang baik. Ihsan diartikan dengan orang yang beribadah seolah-olah dia melihat Allah Swt. Muhsin itu objek dan Ihsan adalah sifatnya.

    Namun jika kita artikan secara maknawiah, Muslim adalah orang yang beribadah dengan menjalankan semua yang wajib dan juga yang sunah namun hal itu hanya berupa rutinitas saja untuk menggugurkan kewajibannya sebagai orang Islam.

    Kemudin Mukmin, ialah orang yang beribadah atau beramal karena ingin mengharapkan ridho Allah semata. Bahkan golongan ini menganggap semua yang dikerjakan atas izin Allah Swt dan tidak terbesit di hatinya untuk mendapatkan pujian dari orang lain, serta selalu berusaha untuk mendapatkan derajat di sisi Allah Swt. Mereka menjalani rukun Islam diiringi dengan keyakinan yang sangat mendalam akan rukun Iman. Setiap ibadah yang dilakukannya penuh dengan kekhusyuan dan semata-mata karena Allah Swt.

    Yang terakhir Muhsin, yaitu orang yang di hatinya selalu ada Asma Allah dan setiap perbuatan yang dilakukan diyakini atas karunia Allah Swt. Ini merupakan tingkatan paling tinggi setelah melalui proses di tingkat Mukmin. Nilai-nilai keduniawian dari dirinya sudah sangat jauh bahkan terasa fana, karena yang diharapkannya adalah menjadi Hamba sejati di hadapan Allah Swt.

    "Muhsin lebih baik dari pada Mukmin dan Mukmin lebih baik dari pada Muslim". Sebagai hamba Allah mestinya kita bisa melalui tingkatan-tingkatan tersebut supaya keridhaan Allah berpihak kepada diri kita semua.

    "Man 'arafa nafsahu 'arafa Rabbahu" Jika seseorang sudah mengenali siapa dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Melalui proses tingkatan-tingkatan itu maka kita akan memahami dari mana, siapa dan akan kemana kita setelah ajal menjemput dan dengan proses itu pula kita akan mengetahui bahwa keridhaan dan kasih sayang Allah sangatlah berharga untuk kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

 Semoga bermanfaat khususnya untuk penulis sendiri.
Wallahu A'lam Bishoab

(sumber.kitab hadits arbaa'in)

Related Post

Previous
Next Post »