Literasi Edukasi

About tamambadru

Manual Description Here: Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis.

Tampilkan postingan dengan label Materi PAI SMP Kelas 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi PAI SMP Kelas 7. Tampilkan semua postingan

HIDUP BERSIH SEMUA MENJADI NYAMAN



1. Renungkanlah

“Kebersihan itu sebagian dari iman.” (H.R. Muslim). Hadis tersebut menegaskan betapa pentingnya kebersihan bagi orang yang beriman. Kebersihan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Tidak akan terwujud kenyamanan tanpa adanya kebersihan.

Kebersihan di sini meliputi : diri sendiri, pakaian, lingkungan, dan yang lainnya. Islam menaruh perhatian sangat tinggi pada masalah kebersihan atau kesucian, baik kebersihan dari najis maupun kebersihan dari hadas.

2. Ingin Tahu tentang Taharah

Taharah artinya bersuci dari najis dan hadasNajis adalah kotoran yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah Swt. sedangkan hadas adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh salat , tawaf, dan lain sebagainya.

Semua harus dibersihkan, termasuk badan, pakaian, tempat dan lingkungan yang menjadi tempat segala aktivitas kita. Lebih-lebih tempat yang kita gunakan untuk melaksanakan ibadah Shalat.

Taharah meliputi 2 hal yaitu: taharah dari najis dan taharah dari hadasTaharah dari najis maksudnya adalah membersihkan sesuatu dari najis. Ada tiga macam najis, yaitu najis mukhaffafahnajis Mutawassitah, dan najis mugaladah.

Najis mukhaffafah adalah najis yang ringan, seperti air seni bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan apapun kecuali air susu ibu. Cara menyucikannya sangat mudah, cukup dengan memercikkan atau mengusapkan air yang suci pada permukaan yang terkena najis.

Najis Mutawassitah adalah najis pertengahan. Contoh najis jenis ini adalah darah, nanah, air seni, tinja, bangkai binatang, dan sebagainya. Najis jenis ini ada dua macam, yaitu najis hukmiyyah dan najis ‘aniyyah. Najis hukmiyyah diyakini adanya tetapi tidak nyata wujudnya (zatnya), bau dan rasanya.

Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis. Sedangkan najis adalah najis yang tampak wujudnya (zat-nya) dan bisa diketahui melalui bau maupun rasanya. Cara menyucikannya adalah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya dengan menggunakan air yang suci.

Najis mugaladah adalah najis yang berat. Najis ini bersumber dari anjing dan babi. Cara menyucikkannya melalui beberapa tahap, yaitu dengan membasuh sebanyak tujuh kali. Satu kali diantaranya menggunakan air yang dicampur dengan tanah.

Penyebab hadas kecil

Kita terkena hadas kecil apabila mengalami/melakukan salah satu dari 4 hal, yaitu:

  1. keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) dan dubur,
  2. hilang akal (contoh tidur),
  3. bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, dan
  4. menyentuh qubul (kemaluan) dan dubur dengan telapak tangan.

Cara menyucikan hadas kecil dengan ber-wudhu. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayammum.

Penyebab hadas besar

Kita terkena hadas besar apabila mengalami/melakukan salah satu dari enam perkara, yaitu:

  1. berhubungan suami istri (setubuh),
  2. keluar mani,
  3. haid (menstruasi),
  4. melahirkan,
  5. nifas,
  6. meninggal dunia.

Cara menyucikannya adalah dengan mandi wajib, yaitu membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayammum.

Perempuan mengalami peristiwa khusus yang tidak dialami oleh seorang laki-laki. Seorang perempuan mengalami peristiwa haidnifas, dan terkadang istihadah. Darah yang keluar dari rahim perempuan ada beberapa macam. Ada yang dinamakan haidnifas, dan istihadah.

Pertama darah haid, yaitu darah yang keluar pada perempuan saat kondisi sehat. Adapun ciri-ciri secara umum adalah kental, hangat, baunya kurang sedap, hitam, merah tua, kemudian berangsur-angsur menjadi semakin bening.

Sebagian perempuan ada yang sudah mengalami haid saat mulai berumur 9 tahun. Namun, rata-rata mereka mengalaminya pada usia belasan tahun.

Masa haid minimal adalah sehari semalam, biasanya 6 atau 7 hari, dan paling lama adalah 15 hari. Kalau setelah 15 hari darah masih terus keluar, maka darah itu merupakan darah istihadah (penyakit).

Perlu diingat bahwa perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan Salat, puasa, membaca dan menyentuh/memegang al-Qur’anThawaf, berdiam diri di masjid, berhubungan suami istri, dan cerai dari suami.

Kedua darah nifas, yaitu darah yang keluar sesudah melahirkan, setelah kosongnya rahim dari kehamilan, meskipun hanya segumpal darah. Sedikit atau banyaknya darah nifas juga bervariasi. Ada yang hanya satu tetes, keluar sehari, atau dua hari.

Rata-rata perempuan mengeluarkan darah nifas selama 40-an hari dan paling lama 60 hari. Adapun cara mandi wajib untuk perempuan yang nifas sama sebagaimana mandinya haid.

Ketiga darah istihadah, yaitu darah yang keluar tidak pada hari-hari haid dan nifas karena suatu penyakit.

Darah istihadah ada empat macam yaitu:

  1. keluar kurang dari masa haid;
  2. keluar lebih dari masa haid;
  3. keluar sebelum usia haid atau setelah masa menopause;
  4. keluar lebih lama dari maksimal masa nifas.

Seorang perempuan yang mengeluarkan darah istihadah tetap harus melaksanakan kewajiban salat dan puasa. Apabila hendak shalat maka bersihkan darah itu, pakailah pembalut, kemudian ambillah air wudhu.

3. Bagaimana Cara Taharah?

Tata cara Taharah dari najis sudah dijelaskan di awal bab ini, sedangkan tata cara Taharah dari hadas meliputi: mandi wajib, wudhu dan tayammum. Adapun sarana yang dapat digunakan untuk Taharah, yakni: air, debu, dan batu.

Pada umumnya, orang bersuci menggunakan air. Adapun air yang bisa dipakai untuk bersuci adalah air yang suci sekaligus menyucikan. Air jenis ini merupakan air yang bersumber dari alam, baik yang keluar dari bumi maupun yang turun dari langit, seperti air sumur, air sungai, air hujan, air laut, air danau, air embun, air salju, dan sebagainya. tata cara Taharah dari hadas.

a. Mandi Wajib

Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar. Sering disebut juga mandi janabat/junub.

Adapun cara mandi wajib adalah sebagai berikut.

  1. Niat mandi untuk menghilangkan hadas besar. Jika dilafalkan maka bacaannya sebagai berikut:  
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

“Saya niat mandi menghilangkan hadas besar karena Allah ta’ala.”

  1. Menghilangkan najis apabila terdapat di badannya seperti bekas tetesan darah.
  2. Membasahi seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana, ber-wudhu terlebih dahulu, mendahulukan yang kanan dari yang kiri, menggosok tubuh, dan sebagainya.

b. Wudhu

Wudhu adalah cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Adapun tata cara wudhu adalah sebagai berikut.

  1. Niat dalam hati ika dilafalkan maka bacaannya sebagai berikut :
 نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
"Saya niat wudhu menghilangkan hadas kecil karena Allah ta’ala ”
  1. Disunahkan mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur, dan membersihkan lubang hidung.
  2. Membasuh muka.
  3. Membasuh kedua tangan sampai siku.
  4. Mengusap kepala.
  5. Disunahkan membasuh telinga.
  6. Membasuh kaki sampai mata kaki.
  7. Tertib (dilakukan secara berurutan).
  8. Berdoa setelah wudu.

c. Tayamum

Tayammum adalah pengganti wudhu atau mandi wajib. Hal ini dilakukan sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (‘uzur).

Suatu ketika, kita sedang memiliki hadas kecil atau besar. Sementara kita harus segera shalat. Namun, pada saat itu tidak tersedia air atau tidak bisa menggunakan air karena sesuatu hal. Nah, solusinya adalah tayammum dengan menggunakan debu yang suci.

Cara ini boleh dilakukan jika:

a. Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya.
b. Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit.
c. Telah masuk waktu shalat .
Ber-tayammum itu mudah, caranya adalah sebagai berikut.

  1. Niat (untuk dibolehkan mengerjakan shalat).

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ فَرْضً ِللهِ تَعَالَى

 “Aku niat bertayammum untuk dapat mengerjakan shalat, karena Allah ta’ala ”

  1. Mengusap muka dengan tanah (debu yang suci).
  2. Mengusap tangan kanan hingga siku-siku dengan debu.
  3. Mengusap tangan kiri hingga siku-siku dengan debu

d. Hikmah Taharah

  1. Orang yang hidup bersih akan terhindar dari segala macam penyakit karena kebanyakan sumber penyakit berasal dari kuman dan kotoran.
  2. Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang selalu menjaga wudhu akan bersinar wajahnya kelak saat dibangkitkan dari kubur.
  3. Dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
  4. Rasulullah saw. menegaskan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman dan ada ungkapan bijak pula yang mengatakan ”kebersihan pangkal kesehatan”.
  5. Kebersihan akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih nyaman.
Daftar Pustaka
Ahsan Muhamad, Sumiyati, & Mustahdi. 2017. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Read More...

Hidup Lebih Damai dengan Ikhlas, Sabar dan Pemaaf

 


Renungkanlah

Kita semua dapat lebih sabar, ikhlas, dan menjadi pemaaf di saat kita diuji oleh Allah Swt. dengan berbagai hal yang menyenangkan. Ujian kesulitan, kehilangan, kekurangan, musibah penyakit, atau kemiskinan adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.

Mari Membaca Al-Quran

a. Membaca Al-Quran

  1. Membaca Q.S. an-Nisa/4: 146

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا – ١٤٦

  1. Membaca Q.S. al-Baqarah/2: 153

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣

  1. Membaca Q.S. Ali-Imran/3: 134

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ – ١٣٤

b. Memahami Hukum Bacaan Nun Sukun/Tanwin

Apabila ada nun Sukun/tanwin berhadapan dengan huruf hijaiyyah, ada empat hukum bacaannya, yaitu izhar (bacaan jelas), ikhfa (bacaan samar), idgham (bacaan lebur), dan iqlab (bacaan beralih).

Secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Idzhar ( إ ظهاٌر )

Idzhar artinya jelas. Hurufnya ada 6, yaitu : غ خ ح ع ﻫ أ. Idzhar adalah apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya, maka dibacanya harus jelan nunnya.
Contohnya :
مَنْ أمن ، خَيْرٌ حَسَنًا , مِنْ خَلق


2. Idgham ( إ دغام )

Idgham artinya memasukkan (huruf yang depan kepada huruf yang belakang). Hurufnya ada 6, yaitu :يَمُنَوِ لَرِ (ي م ن و ل ر)
Idgham terbagi menjadi 2, yaitu :
- Idgham Bigunnah (إ دغام بغنّة)
Artinya : dengan dengung (menahan huruf yang masuk sebanyak 2 harkat) Hurufnya ada 4, yaitu :(يمنو) ي م ن و. Idgham bigunnah adalah apabila ada huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya, maka dibacanya harus berdengung.
Contohnya :
من يعمل , من نبيّن , خيرٌمن
- Idgham Bilagunnah ( ادغام ﺑﻼغنّة)
Artinya : tidak dengan dengung. Hurufnya ada 2, yaitu : لَ رِ . Idgham bilagunnah adalah apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya, maka dibacanya tidak berdengung.
Contohnya :
غفورٌرحيم , خيرٌ ﻟﻪ , من رﺒﻬﻢ
Di dalam Al-Qur’an ada beberapa kata yang tidak dibaca idgham, tetapi dibaca idzhar, seperti :
ِﺻﻨْﻮَﺍنٌ، بُنْيَانٌ، اَلدُّ نْياَ، قِنْوَانٌ
Walaupun nun mati bertemu dengan huruf idgham, tetapi dalam satu kata, maka harus dibaca idzhar.

3. Ikhfa (اﺧﻑﺎﺀ)ٌََََِِ

Ikhfa artinya samar-samar. (seperti bunyi "ng" dalam bahasa Indonesia).
Hurufnya ada 15, yaitu :
ك ق ف ظ ط ض ص ش س ز ذ د ج ث ت
Ikhfa adalah apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya, maka dibacanya samar-samar.
Ikhfa terbagi menjadi 3, yaitu :

- Ikhfa Ab’ad (أبعد )
Ab’ad artinya : jauh (yaitu jauh dari bunyi nun mati atau tanwin, disebut juga dengan sangat samar).
Hurufnya ada 2, yaitu : ق ك
Contohnya :
إن کنتم , شئ ٍقدير

- Ikhfa Autsat (أوسط)
Autsat artinya : dekat (yaitu dekat dengan bunyi nun mati atau tanwin, samar saja)
Hurufnya ada 3, yaitu : ت د ط
Contohnya :
إِنْطَلَقَ ، مِنْ دُونى، کُنْتُمْ

- Ikhfa Aqrob (أقراب)
Aqrobaa artinya : sedang (yaitu boleh sangat samar atau samar saja)
Hurufnya ada 10, yaitu :
ف ظ ض ص ش س ز ذ ج ث

Contohnya :
الْأُنْثَى صَفًّا صَفَّا , مِنْ ذَلِكَ

4. Iqlab ( إ قلبٌ )

Iqlab artinya mengganti (mengganti huruf nun ke huruf mim).
Hurufnya ada 1, yaitu : ب
Iqlab adalah apabila huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Ba’, maka dibacanya balem.
Contohnya :
من بعد , ﺍﻷﻨﺒﻴﺂﺀ


c. Menerapkan Hukum Bacaan Mim Sukun

Jika terdapat mim sukun  bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah, maka hukum bacaannya dibagi menjadi 3 macam, yaitu

  1. Ikhfa` syafawi
  2. Idgam mimi
  3. Izhar syafawi

Untuk memahaminya secara lebih rinci, pelajarilah uraian berikut:

1. Ikhfa` Syafawi

Sebuah bacaan dapat dikatakan sebagai bacaan ikhfa’ syafawi jika ada mim sukun (مْ) yang bertemu dengan huruf ب. Cara membacanya dengung, yaitu mim sukun dibaca bergandengan dengan huruf ب. Contoh: وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ. Bacaan tersebut harus dibaca wa maa humm bimukminiin.

2. Idgam Mimi

Idgham Mimi adalah apabila mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf mim م . Cara membaca hukum bacaan ini adalah dengan memasukkan mim sukun ke dalam mim dan disertai dengan suara dengung. Contohnya: أَيْمَانُكُمْ مِنْ. Cara membacanya adalah: aimaanukummin.

3. Izhar Syafawi

Jika kita menemukan mim mati (مْ) bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah selain huruf mim (م) dan ba (ب), maka cara membacanya dengan jelas di bibir dan mulut tertutup. Contohnya: خَلْفِهِمْ وَعَنْ. Cara membacanya adalah: Khalfihim wa’an.

d. Mengartikan Q.S. an-Nisa/4:146/ Q.S. al-Baqarah/2: 153/ Q.S. ali-Imran/3: 134

Arti Q.S. an-Nisa/4: 146

1). Arti Mufradat (arti kata/kalimat)

LafalArtiLafalArti
اِلَّا الَّذِيْنَkecuali orang- orangفَاُولٰۤىِٕكَmaka mereka
تَابُوْاyang bertobatمَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗbersama orangyang beriman
وَاَصْلَحُوْاyang memperbaikidiriوَسَوْفَdi atas
وَاعْتَصَمُوْاberpegang teguhيُؤْتِ اللّٰهُAllah akanmemberikan
بِاللّٰهِagama Allah Swtاَجْرًا عَظِيْمًاpahala yang besar
وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْdengan tulus dalamberagama

2) Arti Q.S. an-Nisa/4: 146

“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (Q.S. an-Nisa/4: 146)

Arti Q.S. al-Baqarah/2: 153

1. Arti Mufradat (arti kata/kalimat)

LafalArtiLafalArti
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنwahai orang-orangبِالصَّبْرِdengan sabar dan salat
اٰمَنُواorang yang berimanاِنَّ اللّٰهَsesungguhnya Allah Swt.
اسْتَعِيْنُوْاmohonlah pertolonganمَعَ الصّٰبِرِيْنَbeserta orang-orang yang sabar
  1. Arti Q.S. al-Baqarah/2: 153

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Alah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. al-Baqarah/2: 153

3. Arti Q.S. ali-Imran/3: 134

1. Arti Mufradat (arti kata/kalimat)

LafalArtiLafalArti
الَّذِيْنَorang-orangالْغَيْظَamarah
يُنْفِقُوْنَyang menafkahkanhartaوَالْعَافِيْنَ,dan orang yang memaafkan
فِى السَّرَّۤاءِdi waktu lapangعَنِ النَّاسِۗatas manusia
وَالضَّرَّۤاءِdan di waktu sempitوَاللّٰهُdan Allah Swt
وَالْكَاظِمِيْنَdan orang yang menahanالْمُحْسِنِيْنَۚmencintai orang yang berbuat baik
  1. Arti Q.S. ali-Imran/3:134

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. ali-Imran/3: 134

Mari Memahami Al-Quran

1. Kandungan Q.S. an-Nisa/4:146 serta Hadis Terkait

Kandungan Q.S. an-Nisa/4: 146 menjelaskan tentang keikhlasan amal seseorang. Ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya amal. Perhatikan firman Allah Swt. berikut.

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ – ٥

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan ¡alat dan menμnaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.Sal-Bayyinah/98: 5)

“Dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah saw.. bersabda: “Tiga hal yang tidak boleh hati seorang mukmin iri terhadapnya: ikhlas dalam beramal, memberi nasihat kepada pemimpin, dan melanggengkan kebersamaan dengan jamaah.” (H.R. Ahmad).

Allah Swt. berfirman:

فَادْعُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ – ١٤

 “Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).’ (Q.S. al-Mukmin/40:14)

2. Kandungan Q.S. al-Baqarah/2:153 serta Hadis Terkait

Kandungan Q.S. al-Baqarah/2:153 menjelaskan orang-orang yang sabar. Sesungguhnya Allah Swt. Beserta orang-orang yang sabar. Sabar merupakan pengendali hati untuk selalu Istiqamah dalam berbuat baik. Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan.

“Sabar adalah bagian dari iman,sebagaimana kepala bagian dari tubuh ”

Sabar itu ada beberapa macam, antara lain sabar menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi kemaksiatan atau meninggalkan larangan Allah Swt., menerima dan menghadapi musibah, menμntut ilmu pengetahuan, serta sabar dalam bekerja dan berkarya.

Kandungan Q.S. Ali-Imran/3: 134 serta Hadis Terkait

Kandungan Q.S. Ali-Imran/3:134 menjelaskan ciri-ciri orang yang taqwa yaitu selalu memaafkan orang lain. Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita untuk saling memaafkan dan meminta maaf, sebagaimana sabdanya:

“Dari Aisah dari Anas berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sambunglah tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskanmu dan maafkanlah orang-orang yang mendzalimimu. (H.R. Baihaqi)

Pemaaf berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain. Sikap pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikit pun ada rasa benci dan keinginan untuk membalasnya. Dalam bahasa Arab sikap pemaaf disebut al-‘afw yang juga memiliki arti bertambah (berlebih), penghapusan, ampun, atau anugerah.

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan dan kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw. bersabda “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertobat kepada Allah Swt.”.

Perilaku Ikhlas, Sabar, dan Pemaaf

Berikut ini contoh perilaku sebagai implementasi Q.S. an-Nisa/4: 146, Q.S. al-Baqarah/2: 153 dan Q.S. ali-Imran/3: 134.

  1. Perilaku Ikhlas dalam Kehidupan Sehari-hari Perilaku ikhlas sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. an-Nisa/4: 146 dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara:
  • - Gemar melakukan perbuatan terpuji dan tidak di pamerkan kepada orang lain;
  • Ikhlas dalam beribadah, semata-mata karena Allah Swt.;
  • - Tidak mengharapkan pujian atau sanjungan dari orang lain;
  • - Selalu berhati-hati dalam bertindak atau berperilaku;
  • - Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil;
  • - Tidak menghitung-hitung apalagi mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain.
  • - Perilaku Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari

Perilaku sabar sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. al-Baqarah/2: 153 dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara sebagai berikut.

Sabar dalam menjalankan perintah Allah Swt., seperti:

  1. Ketika mendengar azan segera menuju ke masjid untuk melaksanakan £alat berjamaah;
  2. Ketika bel berbunyi segera masuk kelas untuk mengikuti pelajaran;
  3. Saat orang tua memanggil, segera menghadap dan menemui agar tidak mengecewakannya

Sabar dalam menjauhi maksiat atau meninggalkan larangan Allah Swt., seperti:

  1. Ketika diajak membolos segera menolak dan menghindari teman-teman yang bersekongkol untuk membolos;
  2. Saat diajak tawuran segera menolak dan menjauhi teman-teman yang mengajaknya;
  3. Tidak cepat marah dan main hakim sendiri.

Sabar dalam menerima dan menghadapi musibah, seperti:

  1. Ketika terkena musibah sakit tidak mengeluh dan tidak putus asa untuk berusaha mencari obatnya;
  2. Ketika terkena musibah tidak mengeluh dan tidak menyalahkan Allah dan orang lain.
  3. Perilaku Pemaaf dalam Kehidupan Sehari-hari

Perilaku pemaaf sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. ali-Imran/3: 134 dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan:

  1. Memberikan maaf dengan ikhlas kepada orang yang meminta maaf;
  2. Meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat;
  3. Tidak memendam rasa benci dan perasaan dendam kepada orang lain.

Daftar Pustaka
Ahsan Muhamad, Sumiyati, & Mustahdi. 2017. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Read More...