Literasi Edukasi

About tamambadru

Manual Description Here: Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Menantikan datangnya Kematian

 Pernahkah kita berfikir waktu sangatlah cepat berlalu, hari-hari pun seakan nampak berulang kembali dan tak terasa usia kita pun terus berlanjut. Seperti baru kemarin kita adalah anak sekolah belia dan polos kemudian hari ini kita sudah membangun rumah tangga dan memiki anak-anak. Entah 10 tahun kemudian akan terasa seperti saat kita merasakan masa-masa usia dini dahulu bahkan bisa lebih cepat berlalu jauh seperti yang kita bayangkan.

Seiring waktu berjalan maka perubahan pada diri semakin nyata. Wajah nan elok kini menua, rambut hitam pan
jang kini menjadi putih, badan yang gagah kini semakin melemah. Perubahan itu terjadi tanpa kita sadari, perubahan itu terjadi tanpa kita sadari, karena seringnya tubuh ini beraktifitas kita tidak mengetahui sejauh mana tubuh kita sudah mengalami perubahan.

Semua makhluk sudah ditetapkan bagi mereka jodoh, rezeki dan juga kematian. Ketetapan tersebut sudah ada sebelum seluruh makhluk dan dunia ini diciptakan yaitu sejak zaman azali. Jodoh, rezeki dan kematian yang menjadi ketetapan bagi makhluk tidak bisa diterka dan ditebak oleh makhluk lain dan hanya Allah saja yang mengetahui hal tersebut. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, lazimnya suatu ciptaan yang memiliki awalan pasti pula akan menemui akhir.

Kematian merupakan salah satu dari rahasia Allah Swt. yang tidak ada satupun makhluk di dunia ini kapan, bagaimana dan di mana dia menemui ajalnya. Kematian merupakan kepastian tidak dapat dipungkiri bagi setiap yang bernyawa.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang mengetahui ketetapan tersebut akan menemui kita kapan, di mana dan bagaimana. Untuk itu kita sebagai ciptaan Allah Swt harusnya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tersebut, sebagaimana Sayyidina Ali Bin Abi Tholib berkata :

“Suatu perkara (kematian) yang engkau tidak tahu kapan ia akan mendatangimu, maka apa yang mencegahmu untuk bersiap-siap menyambutnya sebelum ia mendatangimu secara tiba-tiba?" (Ali Bin Abi Thalib)

Kematian datang secara tiba-tiba tanpa ada aba-aba ataupun pemberitahuan sebelumnya, jika sudah datang ajal maka kita tidak dapat menunda atau mempercepatnya. Kita semua akan kembali pulang kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan amaliah kita selama di dunia. Selayaknya seseorang yang ingin berpulang ke kampungnya saat Idul Fitri maka persiapan untuk hal tersebut tidak bisa di pandang sepele, bahkan dia sudah mempersiapkan setahun sebelumnya.

Banyak hal-hal yang terperinci sampai yang besar sudah diperhitungkan, berapa lamanya di kampung halangan sudah masuk ke dalam anggarannya. Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk akhirat kita? sebab kita semua merupakan penduduk akhirat yang sudah pasti akan pulang kembali ke sana. Saat kita sudah pulang ke akhirat maka tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke dunia ini lagi, sudah pasti persiapannya harus banyak dan matang.

Banyak dari kita melupakan hal tersebut karena tebuai oleh gemerlapnya dunia yang fana. Dalam konteks ini bukan berarti kita harus meninggalkan urusan dunia namun pengaplikasiannya hanya sesuai kebutuhan yang diperlukan saja, tidak untuk dipamerkan atau disombongkan dan tidak pula untuk menjatuhkan orang lain dengan kekayaan tersebut.

Read More...

Nasihat Malaikat Jibril Kepada Rasulullah Saw.



Pernah suatu ketika Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Saw. disaat itu Malaikat Jibril memberika nasihat kepada Rasulullah dan secara langsung nasihat itu juga ditujukkan kepada kita selaku umatnya. 

Berikut nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah : 

يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ،

"Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” (HR. ath-Thabarani)

Dari nasihat di atas bisa kita simpulkan :

  • Hidup memang sekali namun kebanyakan dari kita tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbanyak amal sholeh kita di dunia. Gemerlap dunia yang sementara membuat orang lupa akan kehidupan akhirat yang abadi karena sejatinya kita semua adalah penduduk asli akhirat bukan dunia. Dunia hanya tempat meninggal dan bukan tempat tinggal. Maanfaatkanlah hidup di dunia ini sebaik mungkin, pastilah setiap manusia akan menemui ajalnya kelak entah kapan, bagaimana dan di mana kematian akan menghampiri kita tidak ada yang mengetahui hal tersebut
  • Cinta merupakan rasa yang diberikan Allah kepada semua makhluknya, dari cinta itu kita bisa saling mengasihi dan menyayangi. Namun cinta yang berlebihan pun tidak baik untuk kita, karena cinta akan menghilang seiring berjalannya waktu. Hal apakah yang membuat cinta itu akan menghilang? semua akan kita rasakan dalam kehidupan ini. Cinta kepada keluarga, anak, orang tua dan lainnya nyatanya akan hilang, dan yang pasti akan terpisah dengan kematian itu sendiri.
  • Melakukan semua hal sesuka hati kita memang diperbolehkan, hal itu sah-sah saja. Namun ingat semua yang kita akan lakukan pasti akan ada balasanya baik itu dibalas di dunia ataupun kelak di akhirat. Balasan yang kita rasakan baik atau buruk akan lahir dengan apa yang sudah kita niatkan, bila hal itu baik bersyukurlah kepada Allah Swt. namun bila sebaliknya itu merupakan balasan atas apa yang sudah kita lakukan dan hendaknya kita selalu bersandar kepada Allah untuk memohon ampun atas apa yang sudah kita kerjakan. Semua itu untuk memberikan kita peringatan menuju jalan yang lebih baik.

Wallahu a'lam bishoab 

Read More...

Muslim, Mukmin dan Muhsin


    Islam merupakan bentuk mashdar dari kata aslama-yuslimu-islaaman, yang artinya tunduk, taat, patuh dan berserah diri. Tunduk, taat, patuh dan berserah diri seseorang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan hatinya. Perbedaan tersebut membuat seseorang memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda pula si hadapan Allah Swt. 

    Tingkatan atau derajat seorang hamba dihadapan Allah Swt. itu berbeda-beda jenisnya. Jenis-jenis tingkatan hamba sudah sangat umum kita dengarkan, yaitu muslim, mukmin dan muhsin. Namun banyak dari kita yang memahami istilah tersebut hanya secara harfiah yaitu :

1. Muslim artinya orang Islam atau orang yang beragama Islam dan juga bisa dikatakan orang yang menjalankan rukun Islam sebagai kewajiban saja. Muslim merupakan objek sedangkan Islam adalah sifatnya.
2. Mukmin artinya orang yang beriman atau bisa juga dikatakan yang mengamalkan rukun iman. Mukmin adalah objek dan Iman itu sifatnya.
3. Muhsin artinya orang yang baik. Ihsan diartikan dengan orang yang beribadah seolah-olah dia melihat Allah Swt. Muhsin itu objek dan Ihsan adalah sifatnya.

    Namun jika kita artikan secara maknawiah, Muslim adalah orang yang beribadah dengan menjalankan semua yang wajib dan juga yang sunah namun hal itu hanya berupa rutinitas saja untuk menggugurkan kewajibannya sebagai orang Islam.

    Kemudin Mukmin, ialah orang yang beribadah atau beramal karena ingin mengharapkan ridho Allah semata. Bahkan golongan ini menganggap semua yang dikerjakan atas izin Allah Swt dan tidak terbesit di hatinya untuk mendapatkan pujian dari orang lain, serta selalu berusaha untuk mendapatkan derajat di sisi Allah Swt. Mereka menjalani rukun Islam diiringi dengan keyakinan yang sangat mendalam akan rukun Iman. Setiap ibadah yang dilakukannya penuh dengan kekhusyuan dan semata-mata karena Allah Swt.

    Yang terakhir Muhsin, yaitu orang yang di hatinya selalu ada Asma Allah dan setiap perbuatan yang dilakukan diyakini atas karunia Allah Swt. Ini merupakan tingkatan paling tinggi setelah melalui proses di tingkat Mukmin. Nilai-nilai keduniawian dari dirinya sudah sangat jauh bahkan terasa fana, karena yang diharapkannya adalah menjadi Hamba sejati di hadapan Allah Swt.

    "Muhsin lebih baik dari pada Mukmin dan Mukmin lebih baik dari pada Muslim". Sebagai hamba Allah mestinya kita bisa melalui tingkatan-tingkatan tersebut supaya keridhaan Allah berpihak kepada diri kita semua.

    "Man 'arafa nafsahu 'arafa Rabbahu" Jika seseorang sudah mengenali siapa dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Melalui proses tingkatan-tingkatan itu maka kita akan memahami dari mana, siapa dan akan kemana kita setelah ajal menjemput dan dengan proses itu pula kita akan mengetahui bahwa keridhaan dan kasih sayang Allah sangatlah berharga untuk kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

 Semoga bermanfaat khususnya untuk penulis sendiri.
Wallahu A'lam Bishoab

(sumber.kitab hadits arbaa'in)
Read More...

Mengaji, Mengkaji dan Diuji


 

    Mengaji merupakan tarbiyah untuk menumbuhkembangan akidah seseorang dalam memahai agama Islam. Mengaji bukan hanya sekedar bisa membaca Al-Qur'an namun juga mengerti akan tafsir, asbabun nuzul, balagah dan sastra bahasa Al-Qur'an itu sendiri. Memilih guru yang mumpuni dalam hal tersebut sangatlah penting, karena guru yang benar-benar faham hal tersebut bukan hanya mengajar namun juga membimbing kita untuk mengkaji, memahami dan menghayati pokok-pokok ajaran Allah dan Rasul-Nya. 

    Mengkaji ilmu yang telah kita pelajari dari guru termasuk proses tarbiyah. Mengkaji ilmu bisa dengan memperhatikan makhluk-makhluk yang Allah ciptakan baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya. Dan apabila ada kekeliruan dalam kajian kita maka hendaklah bertanya  kepada guru yang mengajarkan kita, jika tidak menemukan jawabannya ikhtiarlah kepada sumber yang lain. Dari hasil mengkaji tersebutlah maka seorang hamba sudah siap untuk diuji. 

    Allah Swt. menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah tidak pernah salah dalam memberikan ujian terhadap hamba-hamba-Nya, ujian diberikan untuk meningkatkan derajat orang tersebut di hadapan Allah Swt. Ibarat sebuah pohon semakin tinggi pohon tersebut maka akan semakin kencang angin yang menghantamnya. Namun untuk bisa melalui ujian tersebut alangkah baiknya kita kuatkan akar atau pondasi diri supaya ujian yang kita hadapi memberi faedah untuk diri kita.

    Tatkala ujian itu datang maka tidak ada rasa terbebani, tidak akan menyalahkan siapapun dan terus berusaha untuk bersabar serta tawakal karena ujian tersebut sudah dikaji dan dipelajari pada saat kita mengaji. Derajat yang akan kita raih tergantung keridhaan dari Allah Swt, kita wajib berdoa dan berikhtiar. Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan lebih bertawakal kepada Allah Swt. atas ujian yang sedang kita jalani. Wallahu A'lam Bishoab.

Read More...

Aku Mendapatkan Suul Khatimah ?


    
 

   Sebagai hamba Allah swt. kita diwajibkan untuk tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya dan juga menjauhi segala yang dilarang. Hal tersebut yang membuat kita menjadi terbiasa melakukan hal yang positif dan sangat janggal apabila kita sudah melakukan hal yang negatif. karena perintah dari Allah yang membentuk diri kita sehingga terbiasa melakukan ibadah dan hal baik lainnya sehingga kesalahan yang kita buat membuat hati kita selalu merasa bersalah walaupun tak terucap dalam bibir.

    Hati manusia bagaikan pantulan di permukaan air, terkadang mulut mengeluarkan kata-kata yang tidak bersesuaian dengan hati. Pada saat itu pun hati kita merasa tidak nyaman, seperti ada hal yang mengganjal yang seharusnya tidak kita lakukan. Hati yang seperti itu adalah hasil pembentukan dari pembiasaan diri kita terhadap hal-hal yang positif yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah Swt,. 

    Dalam ibadah, membiasakan diri dalam hal yang positif disebut dengan istiqomah. Namun apakah karena hal tersebut akhir hidup bisa husnul khatimah atau malah suul khatimah? Hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui. Tentunya kita semua sebagai umat Islam menginginkan akhir yang baik, Setiap manusia pasti akan merasakan kematian, jika kematian itu sudah ditentukan maka kita tidak akan bisa mempercepat atau menundanya. Namun cara Allah swt. mengambil nyawa seseorang itu berbeda-beda, tergantung apa yang kita kerjakan di akhir hayat itu baik atau tidak. Maka dalam Islam akhir yang baik bagi seseorang yang meninggal dunia disebut Husnul Khatimah dan akhir kehidupan yang tidak baik disebut Suul Khatimah. Kita juga berharap mudah-mudahan Allah mencabut nyawa kita pada saat kita  melakukan hal yang positif atau ketika kita sedang menunaikan ibadah yang kita istiqomahkan.

    Di samping itu juga tidak boleh jumawa atas ibadah yang sudah kita lakukan, jangan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, karena setan tidak akan pernah berhenti menggoda dengan memperdaya hamba Allah sampai kapanpun. Hal tersebutlah yang bisa membuat kita bisa menjadi suul khatimah lantaran kita sudah merasa paling baik dan paling benar.

    Semakin giat seseorang dalam ibadahnya maka akan semakin besar pula ujiannya, jangan sampai kita termakan rayuan setan sehingga kita bisa terjatuh ke jurang kesengsaran yang tidak kita inginkan. Maka dari itu semakin tinggi derajat seseorang haruslah hatinya semakin tawadhu (rendah hati). Jika ibadah yang kita lakukan tidak dibarengi dengan hati yang tawadhu maka akan timbul sifat sombong yang akan dimanfaatkan oleh setan sehingga kita akan masuk ke golongan mereka. Naudzu billahi min dzalik.

Read More...

Minal Mahdi Ilal Lahdi


  
  Belajar merupakan cara manusia membentuk karakter dan budaya, membentuk jasmani dan rohani yang mumpuni. Belajar sudah menjadi kewajiban bagi kita umat Islam. Namun sampai kapankah kita harus belajar?
    Nabi muhammad saw. 14 abad yang lalu sudah memberikan keterangan yang sangat jelas bahwa menuntut ilmu di mulai dari kita dilahirkan dan berakhir saat kita dikebumikan. Tuntutan belajar bukan hanya sekedar lulus dari sekolah mendapatkan ijazah atau keluar dari pesantren bahkan ketika seseorang sudah memiliki murid atau mengajar, belajar masih menjadi kewajiban.
    Ibarat seseorang yang sedang berjualan, disamping dia harus menjual barang dagangannya pun dia harus membeli barang yang baru. Begitu halnya dengan belajar, tidak cukup hanya sampai lulus dari sebuah institusi tapi juga harus berkelanjutan.
    Terutama pembelajaran dalam ilmu-ilmu agama. Banyak dari kita atau anak-anak kekinian belajar agama hanya saat sekolah dasar saja dan ketika memasuki sekolah menengah pertama banyak dari mereka yang enggan belajar ilmu agama (mengaji).
    Usia belia seperti mereka sangat efektif untuk mengingat sesuatu hal,sangat di sayangkan apabila mereka berhenti mengaji lantaran sudah berpindah jenjang sekolah yang lebih tinggi. Benar apabila pepatah mengatakan belajar di usia muda ibarat mengukir di atas batu dan belajar di usia senja ibarat mengukir di atas air. Jangan meremehkan suatu pelajaran apalagi pelajaran tentang ilmu agama yang merupakan fardhu 'ain untuk kita sebagai umat Islam.
    Terkadang penyesalan hadir di akhir untuk memberikan kita hidayah dan ghiroh (semangat) akan pentingnya memanfaatkan waktu, namun jangan sampai hal itu terjadi kepada diri kita dan keluarga kita semua.Kullukum ro'in wakullukum mas'ulun 'an ro'iatihi, "setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya kelak".
Mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi yang membaca khususnya bagi penulis pribadi.
Wallahu a'lam bishoaab.
Read More...

Apakah kamu sudah sholat hari ini?

 Itu merupakan kata-kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Karena sholat merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Setiap makhluk haruslah mendekatkan dirinya kepada Sang Khaliq, dan salah satu cara mendekatkan diri bagi umat Islam adalah dengan sholat. Allah mencipatakan semua makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya dan tata cara beribadah pun sudah di atur oleh Allah Swt.

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Artinya: "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'," (QS. Al Baqarah: 45).

Sabar dan sholat merupakan amalan yang sungguh berat, jika kita memahami secara detail dari keutamaan baik itu syarat, rukun, sunah sholat maka kekhusyuan dalam sholat akan tercapai. Dan hal ini yang menjadikan penolong bagi kita di dunia dan di akhirat. Orang yang khusyu dalam sholatnya adalah orang yang faham betul akan essensi sholat tersebut, bukan yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja ketika melaksanakn sholat, tapi faham betul apa yang terjadi jika sholat kita tidak diterima oleh Allah.

Orang yang shalatnya tidak mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Hal tersebut membuatnya jauh dari Allah Swt (Syekh Nawawi Al-Bantani Nashoihul Ibad hal 70). Lalu bagaimana caranya shalat kita bisa diterima dan bisa menjauhkan kita dari perbuatan keji dan munkar? Apakah sholat yang kita lakukan selama ini belum memberi manfaat (penolong) untuk diri kita? Untuk menghindari hal tersebut maka haruslah kita mempelajari tuntunan shalat baik itu syarat dan rukunnya. Rukun yang utama dalam shalat adalah rukun fi’li (perbuatan), rukun qouli (perkataan) dan yang lebih utama adalah rukun qolbi (hati), ketiga rukun ini harus menyatu dalam setiap gerakan, bacaan dan juga di sanubari kita ketika menunaikan shalat.

Untuk lebih lanjut marilah sama-sama kita pelajari tatacara dan ketentuan sholat, penting bagi kita untuk ikhtiar menjadikan sholat kita yang berkwalitas di hadapan Allah Swt. Dan semoga kita termasuk orang yang dijauhi dari perbuatan keji dan munkar. Hanya kepada Allah tempat kita kembali. Wallahu A’lam Bishoaab.

Read More...