Literasi Edukasi

About tamambadru

Manual Description Here: Ea eam labores imperdiet, apeirian democritum ei nam, doming neglegentur ad vis.

Mengonsumsi Makanan dan Minuman yang Halal dan Menjauhi yang Haram



1. Makanan Halal

Makanan halal adalah makanan yang boleh dimakan menurut ketentuan syariat Islam. Bagi seorang muslim, makanan yang dimakan harus memenuhi dua syarat, yaitu :

  • Halal, artinya dibolehkan berdasarkan ketentuan syariat Islam.
  • Tayyib, artinya baik, mengandung nutrisi, bergizi, dan menyehatkan.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. al-Māidah/5 ayat 88:

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ – ٨٨

Artinya : “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. (Q.S. al-Māidah/5 : 88)

Makanan dan minuman yang kita konsumsi tidak asal mengenyangkan saja, tetapi harus halalan tayyiban. Adapun halalnya makanan dan minuman meliputi tiga kriteria berikut ini :

  1. Halal dari segi wujudnya dzatnya makanan itu sendiri, yaitu tidak termasuk makanan yang diharamkan oleh Allah Swt.
  2. Halal dari segi cara mendapatkannya
  3. Halal dalam proses pengolahannya.

Adapun jenis-jenis makanan halal menurut wujudnya adalah sebagai berikut :

1). Makanan yang disebut halal oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini yang artinya :

“Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya adalah halal dan apa yang diharamkan Allah di dalam Kitab-Nya adalah haram, dan apa yang didiamkan (tidak diterangkan), maka barang itu termasuk yang dimakan”. (H.R. Ibnu Majah dan Tirmizi)

2). Makanan yang tidak kotor dan tidak menjijikkan. Hal ini sesuai firman Allah dalam Q.S. al-A’rāf/7 ayat 157 :

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ 

Artinya : “ …dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka… “ (Q.S. al-A’rāf/7 : 157)

3). Makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan kesehatan tubuh, tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan aqidah. Firman-Nya dalam Q.S. al-Baqārah/2 ayat 168 :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ – ١٦٨

Artinya : “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkahlangkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al- Baqārah/2 : 168)

2. Makanan Haram

a). Semua makanan yang langsung dinyatakan haram dalam Q.S. al- Māidah/5 ayat 3, yaitu:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ – ٣

Artinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang  (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu perbuatan fasik…” (Q.S. al-Māidah/5 : 3)

Dalam ayat tersebut, makanan yang dinyatakan haram adalah :

  1. bangkai,
  2. darah,
  3. daging babi,
  4. daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah Swt., hewan yang mati karena tercekik, dipukul, terjatuh, ditanduk hewan lain, diterkam binantang buas,
  5. hewan yang disembelih untuk berhala.

b. Semua jenis makanan yang mendatangkan mudarat/bahaya terhadap kesehatan badan, jiwa, akal, moral, dan akidah. Perhatikan Q.S. al-A’raf/7 ayat 33:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ – ٣٣

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan zalim tanpa alasan yang benar …” (Q.S. al-A’raf/7 : 33)

c. Semua jenis makanan yang kotor dan menjijikkan (khobāis). Firman Allah dalam Q.S. al-A’raf/7 ayat 157:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ – ١٥٧

Artinya: “… dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka,…” (Q.S. al-A’rāf /7 : 157)

d. Makanan yang didapatkan dengan cara batil. Perhatikan Q.S. an-Nisā’/4 ayat 29 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا – ٢٩

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu” (Q.S. an-Nisā’/4 : 29)

3. Minuman Halal

Minuman halal adalah minuman yang boleh diminum menurut ketentuan hukum syariat Islam.

Adapun jenis-jenis minuman yang halal adalah :

  1. tidak memabukkan,
  2. tidak mendatangkan mudharat bagi manusia, baik dari segi kesehatan badan, akal, jiwa maupun akidah,
  3. tidak najis,
  4. didapatkan dengan cara yang halal.

4. Minuman Haram

a. Minuman yang memabukkan (khamr). Hadis Rasulullah :

Adapun jenis-jenis minuman yang haram adalah yang artinya:

“Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap sesuatu yang memabukkan adalah khamr dan setiap yang memabukkan adalah haram” (H.R. Abu Daud)

Berdasarkan hadis tersebut maka pengertian khamr itu mencakup segala sesuatu yang memabukkan, baik berupa zat cair, maupun zat padat, baik dengan cara diminum, dimakan, dihisap, atau disuntikkan ke dalam tubuh. Misalnya ganja, narkotika, morfin, heroin, bir, arak, dan berbagai minuman beralkohol lainnya.

Hukum Islam menegaskan bahwa mengkonsumsi khamr, baik sedikit ataupun banyak hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw. Yang artinya:

“Dari Abdullah bin Umar dia berkata, Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:”Setiap yang memabukkan adalah haram dan sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram“ (H.R. Ibnu Majah)

b. Minuman yang berasal dari benda najis atau benda yang terkena najis. Misalnya minuman yang berasal dari air kencing kucing.

c. Minuman yang didapatkan dengan cara batil (tidak halal). Misalnya minuman yang didapatkan dengan cara merampok, merampas, dan memeras.

5. Manfaat Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Halal

  1. Mendapat rida Allah karena telah menaati perintah-Nya dalam memilih jenis makanan dan minuman yang halal.
  2. Memiliki akhlaqul karimah karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan berubah menjadi tenaga yang digunakan untuk  beraktivitas dan beribadah.
  3. Terjaga kesehatannya karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi bergizi dan baik bagi kesehatan badan.

6. Akibat Buruk dari Makanan dan Minuman yang Haram

1). Amal ibadahya tidak akan diterima dan doanya tidak akan dikabulkan oleh Allah Swt.

2). Makanan dan minuman haram bisa merusak jiwa terutama minuman keras (khamr). Akibat buruk meminum khamr di antaranya seperti :

  • Menyebabkan berbagai macam penyakit psikologis (gangguan jiwa), misalnya gangguan daya ingat, gangguan mental, kegagalan daya pikir.
  • Menimbulkan beban mental, emosional, dan sosial yang sangat berat.
  • Menimbulkan beban penderitaan berkepanjangan dan hancurnya masa depan.

3). Makan dan minuman yang haram dapat mengganggu kesehatan tubuh. 

4). Menghalangi mengingat Allah SWT.

Allah berfirman:

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ – ٩١

Artinya: “Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan śalat, maka tidakkah kamu mau berhenti ” (Q.S. al-Māidah/5 : 91)

Daftar Pustaka : 

Ahsan Muhamad, Sumiyati, & Mustahdi. 2017. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Read More...

Meyakini Hari Akhir, Mengakhiri Kebiasaan Buruk

 


Pernahkah kamu melihat orang yang sedang menanam pohon? Orang yang menanam pohon mangga tentu berharap kelak akan memanen buah mangga. Mereka yang menanam padi berharap akan memanen padi, demikian juga yang menanam jagung, sagu, atau sorgum tentu berharap akan memanen jagung, sagu, atau sorgum. Seperti itu pula kehidupan kita di dunia ini. Kita diperintahkan untuk menanam kebaikan sebanyak-banyaknya, agar kelak di akhirat dapat menuai atau memanen pahala atas tanaman kebaikan itu.

Hal ini sangat sesuai dengan pesan Rasulullah saw. bahwa kehidupan di dunia merupakan ladang untuk menanam. Kalau yang kita tanam adalah kebaikan, kelak di akhirat kita akan memanen kebaikan. Sebaliknya, jika yang kita tanam adalah keburukan, kelak yang akan kita panen adalah keburukan yang telah kita perbuat.

Marilah kita merenung sejenak, pada hakikatnya hidup di dunia ini hanyalah sebentar dan sementara. Tidak ada orang yang akan hidup selamanya di dunia, bukan? Sayang sekali jika kesempatan yang tidak lama ini tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mencari bekal kehidupan di akhirat kelak. Banyak sekali orang yang menunda-nunda untukberamal baik dengan alasan masih banyak waktu. Para remaja menghabiskan waktunya untuk berfoya-foya. Para pemuda menggunakan waktunya hanya dengan bersenang-senang. Mereka lupa bahwa kematian dapat datang secara tiba-tiba tanpa pernah diduga sama sekali. Begitu kematian telah datang, habislah kesempatan kita untuk menanam kebaikan.Oleh karena itu, janganlah membuang waktu lagi. Marilah kita perbanyak amal kebaikan dan hentikan kebiasaan buruk untuk menggapai kehidupan akhirat yang lebih baik.

Mutiara Khasanah Islam

1. Pengertian Hari Akhir dan Macam-Macam Kiamat

Beriman kepada hari akhir atau hari kiamat merupakan rukun iman yang kelima. Umat Islam harus percaya dan yakin bahwa hari akhir itu pasti akan datang. Kelak manusia akan dibangkitkan kembali dari kubur untuk menerima pengadilan Allah Swt. Perhatikan firman Allah Swt.berikut:

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ (٧)

Artinya: “Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur” (Q.S. al-Hajj/22:7)

Iman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa seluruh alam termasuk dunia dan seisinya akan mengalami kehancuran. Hari akhir ditandai dengan ditiupnya terompet Malaikat Israfil. Dijelaskan bahwa pada hari itu, daratan, lautan dan benda-benda di langit porak-poranda. Gunung-gunung meletus, hancur, dan berhamburan. Lautan meluap dan menumpahkan seluruh isinya. Benda-benda yang ada di langit bergerak tanpa kendali. Bintang, planet, dan bulan saling bertabrakan.

Seluruh manusia menjadi panik. Mereka berlari pontang-panting dan tidak sempat mengenali lagi sanak saudaranya. Semua ingin menyelamatkan diri, namun akhirnya semuanya mati, hancur, dan menghadap Ilahi. Tidak hanya manusia yang mati, seluruh tumbuhan, hewan, kuman, bakteri, virus, jin, dan syaitan juga mengalami kematian. Mahabesar Allah atas segala kuasa-Nya.

Para ulama mengelompokkan kiamat menjadi dua macam, yaitu: Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra

a. Kiamat Sugra(kiamat kecil), yaitu terjadinya kematian yang menimpa sebagian umat manusia. Misalnya: matinya seseorang karena sakit, kecelakaan, musibah tsunami, banjir, tanah longsor, dan sebagainya.

b. Kiamat Kubra (kiamat besar), yaitu terjadinya kematian dan kehancuran yang menimpa seluruh alam semesta. Dunia porakporanda, rusak, dan hancur. Kehidupan manusia akan berganti dengan alam yang baru, yakni alam akhirat. Kiamat Kubra ini dialami  oleh seluruh makhluk hidup di jagad raya tanpa terkecuali. Kejadian ini terjadi secara menyeluruh sehingga dapat dibayangkan bahwa suasana saat itu sangat mencekam dan luar biasa dahsyatnya. Jika itu sudah dikehendaki oleh Allah Swt., Sang Pencipta, tidak ada yang bisa menghalangi kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Peristiwa kiamat kecil berupa kematian sudah sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kiamat kecil itu merupakan akhir dari kehidupan orang-orang yang mengalaminya. Bagi orang yang masih hidup, hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa pada saatnya, kita juga akan mengalaminya. Kiamat Kubra memang belum terjadi. Peristiwanya hanya dapat diketahui melalui keterangan dan berita dari Allah Swt. dan Rasulullah saw.

2. Kejadian Kiamat Kubra

Kejadian mengenai hari kiamat digambarkan oleh Allah Swt. begitu dahsyat, sebagaimana tertuang dalam Q.S. al-Qāri’ah/101:4-5 berikut ini:

يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (٤)وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (٥)

Artinya: “Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Q.S. al-Qāri’ah/101:4-5)

Di dalam Q.S. Az-Zalzalah/99:1-2, Allah Swt. juga berfirman:

إِذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا (١)وَأَخْرَجَتِ الأرْضُ أَثْقَالَهَا (٢)

Artinya: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,” (Q.S. Az-Zalzalah/99:1-2)

Kiamat Kubra memang belum terjadi sehingga tak seorang pun mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Namun, kita mengetahuinya dari firman Allah Swt. dan Hadis Nabi saw. Adapun kejadian Kiamat Kubra digambarkan oleh Allah Swt. sebagai berikut:

a. Malaikat Israfil meniup sangkakala untuk yang pertama kali. Semua makhluk akan mati, kecuali yang dikehendaki hidup oleh Allah Swt.

Firman Allah dalam Q.S. az-Zumar/39:68:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (٦٨)


Artinya: “Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. ...” (Q.S. az-Zumar/39:68)

b. Langit menjadi terpecah-belah, matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, lautan meluap dan menjadi panas, gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan, dan manusia seperti anai-anai beterbangan.

Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Muzammil/73:18:

السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولا (١٨)

Artinya: “Langit terbelah pada hari itu, janji Allah pasti terlaksana.” (Q.S. al-Muzammil/73:18)

Setelah peristiwa kiamat yang maha dahsyat itu, semua manusia akan mati dan mengalami proses kehidupan di alam akhirat sebagai berikut.

1) Alam Barzakh (Yaumul Barzakh)

Alam barzakh yang dikenal dengan alam kubur yang merupakan pintu gerbang menuju akhirat atau batas antara alam dunia dan alam akhirat. Di alam kubur, manusia akan bertemu, ditanyai, dan diperiksa oleh malaikat Munkar dan Nakir tentang segala amal perbuatannya ketika menjalani kehidupan di dunia.

Perhatikan kisah kehidupan di alam kubur yang diceritakan oleh Nabi Muhammad saw. berikut ini.


Beda Orang Mukmin dan Kafir di Alam Kubur

Nabi Muhammad saw. pernah masuk ke sebuah kebun milik Bani Najjar, lalu mendengar suara hingga beliau khawatir. Beliau bertanya: “Siapa yang dikubur ini?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, orang-orang yang mati pada masa Jahiliyah.” Beliau berkata, “Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksa neraka dan fitnah Dajjal.” Para sahabat merasa heran, lalu mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, memang kenapa, apa yang terjadi, ya Rasul?”

Beliau menjawab, “Seorang mukmin jika telah diletakkan dalam kuburnya, maka seorang malaikat akan datang kepadanya seraya berkata, “Apa yang kamu sembah?” Jika Allah memberinya petunjuk, maka ia akan menjawab, “Aku menyembah Allah.” Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang kau katakan tentang pria ini (Muhammad)?” Lalu ia menjawab, “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Orang tersebut tidak ditanya kecuali pertanyaan yang tadi.

Lalu ia dibawa menuju rumah yang disediakan untuknya di dalam neraka, dikatakan kepadanya, “Lihatlah, ini adalah rumah yang semula disediakan untukmu di neraka, tetapi Allah telah melindungi dan memberimu rahmat, lalu Allah menggantikan rumahmu di surga.” Lakilaki mukmin itu pun berkata, “Biarkanlah aku mengabarkan berita baik ini kepada keluargaku di dunia,” Lalu dikatakan kepadanya, “Tenangkan dirimu dan tinggallah di situ.”

Bila seorang kafir telah diletakkan dalam kuburnya, seorang malaikat akan datang kepadanya seraya bertanya, “Siapa yang kamu sembah?” Ia lalu menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu, dikatakan kepadanya, “Engkau tidak tahu tapi tidak mau membaca!” Lalu malaikat berkata, “Apa yang kamu katakan tentang pria ini (Muhammad)?” Ia lalu menjawab, “Aku mengatakan ia manusia biasa, bukan utusan Allah Swt.”

Malaikat itu lalu memukulnya dengan palu besi antara dua telinganya hingga ia melolong dan menjerit kesakitan dengan jeritan yang dapat didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia.

Sumber: Kitab Hadis Sunan Abu Dawud


2) Yaumul Ba’a¡


Pernahkan kamu melihat benih kecil yang tumbuh di atas tanah? Begitulah kelak Allah Swt. akan membangkitkan kembali seluruh manusia yang telah mati dari alam kubur. Peristiwa itu dinamakan yaumul ba’a¡. Yaumul ba’a¡ adalah hari dibangkitkannya manusia dari alam kubur untuk diarahkan menuju padang mahsyar. Kebangkitan manusia ini akan terjadi setelah ditiupkan sangkakala yang kedua oleh Malaikat Israfil. Seluruh manusia mulai zaman Nabi Adam sampai manusia terakhir bangkit dari kubur. Adapun keadaan mereka bermacammacam sesuai dengan amal perbuatan mereka pada waktu hidup di dunia. Firman Allah Swt.:


وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الأجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ (٥١)


Artinya: “Lalu ditiuplah sangkakala (yang kedua kalinya), maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya”. (Q.S. Yāsin/36:51)


Karena kesombongannya, sebagian orang tidak mau percaya tentang kejadian hari akhir. Orang-orang seperti ini kelak akan tercengang, menyesal, malu, lantas menundukkan kepala mereka dengan lesu. Mereka merasa kebingungan dan sangat panik karena


tidak pernah menduga hal semacam ini akan terjadi. Orang-orang yang ingkar semacam ini diibaratkan Allah Swt. seperti belalang yang beterbangan ke sana kemari karena cemas, panik, dan bingung. Pandangan mereka tertunduk dan ketika mereka keluar dari kuburan, mereka panik seperti belalang yang beterbangan serta meloncat dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.


Rasulullah saw. secara lebih jelas menceritakan kisah yang akan terjadi kelak di hari kebangkitan seperti berikut ini:


اَخْبَرَنَابَهْزُبْنُ حَكِيْمٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّكُمْ مَحْشُوْرُوْنَ رِجَالًا وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّوْنَ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ (رواه الترمذي)


Artinya: “Telah menceritakan kepada Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kamu akan dikumpulkan (pada hari kiamat) ada yang berjalan, berkendaraan, dan akan diseret di atas wajah kamu.” (H.R. Tirmidzi)


3) Yaumul Hasyr atau Yaumul Mahsyar


Bacalah sepenggal kisah mengenai peristiwa Yaumul Mahsyar yang disampaikan oleh Rasulullah saw. berikut ini.


Percakapan Rasulullah saw. dengan Istri Beliau Aisyah


Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw. ;


“Wahai Rasulullah, bagaimanakah keadaan manusia ketika mereka di Padang Mahsyar?” Beliau menjawab: “Mereka tidak berpakaian sama sekali.”


Selanjutnya, Aisyah bertanya; “Begitu juga dengan para wanita?”


Beliau menjawab: “Ya, begitu juga dengan para wanita.”


Aisyah melanjutkan pertanyaannya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka tidak merasa malu?”


Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, perkara dan masalah yang mereka hadapi pada hari itu jauh lebih penting daripada hanya sekadar saling pandang di antara sesama mereka.”


Sumber: Kitab Hadis Sunan Ibnu Majah


Yaumul أasyr atau Yaumul Mahsyar adalah hari dikumpulkannya seluruh manusia yang telah dibangkitkan dari kuburnya, di sebuah padang yang sangat luas bernama Padang Mahsyar. Di Padang Mahsyar keadaan manusia sangat susah, tidak ada yang dapat menolong, kecuali hanya pertolongan yang datangnya dari Allah Swt. bagi orangorang yang dikehendaki-Nya.


Pada Yaumul Mahsyar pula, manusia menerima catatan amalnya selama hidup di dunia, baik amal yang buruk maupun amal yang baik. Seluruhnya tercatat secara rinci. Orang yang beriman dan beramal saleh merasa gembira melihat catatan amalnya. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat dan kerusakan ketika hidup di dunia akan menerima catatan amalnya dengan perasaan sedih serta penuh dengan penyesalan.


Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan karena segalanya sudah terjadi. Pada hari itu, orang yang tidak beriman sungguh telah putus harapannya karena pertolongan Allah Swt. sudah tidak mungkin lagi datang kepadanya. Sebaliknya bagi orang-orang yang beriman penantiannya di Padang Mahsyar adalah penantian yang penuh harapan akan pertolongan Allah Swt.


Ketika seluruh manusia sampai di Padang Mahsyar, mereka menunggu pengadilan dari Allah Swt. Bagaimana gambaran Padang Mahsyar? Padang Mahsyar digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai tanah lapang berwarna putih bersih dan tidak ada tempat untuk berteduh maupun pepohonan.


Di Padang Mahsyar inilah Allah Swt. akan mengadili manusia dengan seadil-adilnya, sebagaimana firman Allah Swt.:


وَأَشْرَقَتِ الأرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٦٩)


Artinya: “Dan bumi (Padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masingmasing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan.(QS. az-Zumar/39:69)


Seluruh manusia ketika berada di Padang Mahsyar merasa sangat cemas. Orang yang banyak beramal baik merasa cemas apakah amal kebaikannya diterima Allah Swt. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat merasa cemas dan takut apakah perbuatannya itu akan diampuni oleh Allah Swt. Pengadilan Allah Swt. di Padang Mahsyar juga menentukan, apakah manusia akan selamat dan masuk surga dengan penuh kebahagiaan atau akan masuk neraka.


4) Yaumul Mizan dan Yaumul Hisab


Arti kata mizan adalah timbangan, Hisab artinya perhitungan. Dua istilah ini , yaitu Yaumul Mizan dan Yaumul Hisab memiliki makna yang hampir sama.


Yaumul Mizan adalah hari ditimbangnya seluruh amal baik dan buruk manusia untuk menerima keadilan dan balasannya masing-masing. Yaumul Mizan disebut juga Yaumul Hisab, yaitu hari diperhitungkannya seluruh amal perbuatan manusia, baik amal yang baik maupun amal yang buruk. Pada hari itu, manusia akan menerima balasannya masingmasing berdasarkan keadilan dari Allah Swt.


Setelah seluruh manusia sampai di Padang Mahsyar, seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia akan dihitung atau ditimbang. Bagi mereka yang timbangan amal baiknya lebih berat akan mendapatkan balasan yang memuaskan, sedangkan bagi mereka yang timbangan amal baiknya lebih ringan akan mendapatkan balasan neraka hawiyah, yaitu neraka yang panas.


Firman Allah Swt. dalam Q.S. az-Zalzalah/99 ayat 7 dan 8


فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)


Artinya: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (Q.S. az-Zalzalah/99:7-8).


Pada hari perhitungan amal manusia, akan diperlihatkan kepadanya semua perbuatannya selama hidup di dunia. Ketika ia melihat amal baiknya, dia akan merasa senang. Sebaliknya, ketika melihat amal buruknya, dia akan menyesal. Firman Allah Swt.:


يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (٣٠)


Artinya: “(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan di hadapkan kepadanya, begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan...” (Q.S. ‘Ali ‘Imran/3:30)


Rasulullah saw. menjelaskan bahwa perkara yang pertama kali akan diperhitungkan adalah salat seseorang. Bila seseorang tidak pernah meninggalkan salat dan salat itu dilaksanakan dengan khusyu, dia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.


Amal baik dan amal buruk manusia kelak akan ditimbang di neraca keadilan. Inilah yang disebut dengan Yaumul Mizan. Yaumul Mizan merupakan hari ditimbangnya amal perbuatan manusia dari yang terkecil sampai yang terbesar. Seluruhnya akan terlihat dan tidak ada yang luput dari perhitungan. Perbuatan baik meskipun hanya seberat zarrah akan ada balasannya, begitu pula perbuatan jahat walaupun seberat zarrah juga akan ada balasannya.


Berbahagialah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka akan mendapatkan timbangan yang berat untuk amal salehnya dan mereka juga akan memperoleh kebahagiaan di akhirat.


Di akhirat, sebaliknya, orang yang selalu berbuat kejahatan tentunya akan mendapati timbangan amal buruknya sangat berat. Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyatakan betapa meruginya


orang yang ketika di dunia selalu berbuat jahat. Mereka kelak di akhirat akan mendapatkan siksaan yang amat berat di neraka sebagai balasan atas perbuatan jahatnya itu.


5) Surga dan Neraka


Allah Swt. memiliki sifat Yang Maha Adil, karena seluruh perbuatan manusia akan diadili. Seluruh amal baik dan amal buruk manusia akan mendapatkan balasannya. Tidak ada satu perbuatan pun yang luput dari keadilan Allah Swt.


Sebaliknya, orang yang selalu berbuat kejahatan tentunya akan mendapati timbangan amal buruknya sangat berat. Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyatakan betapa susahnya seseorang yang ketika di dunia selalu berbuat jahat. Mereka kelak di akhirat akan mendapatkan siksaan yang amat berat di neraka sebagai balasan atas perbuatan jahatnya itu.


Balasan terhadap amal buruk yang dilakukan ketika hidup di dunia ditimpakan setelah dilakukan penimbangan seberapa berat kejahatan dan keburukan yang telah dilakukannya. Kemudian, mereka akan mendapatkan balasannya berupa siksa di neraka.


a) Surga sebagai Balasan Amal Baik


Seluruh perbuatan baik manusia telah diperhitungkan pada saat Yaumul Hisab. Perbuatan baik itu akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt. Tidak ada sedikit pun perbuatan baik yang tidak mendapatkan balasan. Balasan Allah Swt. terhadap perbuatan baik tentu balasan yang sangat menyenangkan dan memuaskan.


Balasan yang memuaskan itu berupa surga yang di dalamnya penuh kenikmatan yang melebihi kenikmatan dunia. Ungkapan kenikmatan itu difirmankan Allah Swt.:


إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (٥٥)هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلالٍ عَلَى الأرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (٥٦)لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ (٥٧)سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (٥٨)


Artinya: “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenangsenang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasanganpasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buahbuahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.S. Yāsin/36:55-58)


b) Neraka sebagai Balasan Amal Buruk


Setiap perbuatan buruk manusia juga akan menerima balasannya. Perbuatan buruk sekecil apapun akan menerima balasannya, yakni neraka yang di dalamnya ada api yang sangat panas.


Di neraka itulah, balasan orang yang banyak melakukan dosa, takabur, sombong, dan terlebih tidak melaksanakan perintah Allah Swt. Mereka di neraka susah payah mendapatkan makan dan minum, mereka diberi minuman yang panas dan makanan dari pohon berduri.


Firman Allah Swt.:


لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلا مِنْ ضَرِيعٍ (٦) لا يُسْمِنُ وَلا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (٧)


Artinya: ”Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.” (Q.S. al-Gāsyiyah/88:6-7)


Para penghuni neraka tidak akan merasa aman atau menyenangkan sebab selalu diliputi angin dan air yang panas.


Firman Allah Swt.:


فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ (٤٢) وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ (٤٣) لا بَارِدٍ وَلا كَرِيمٍ (٤٤)


Artinya: “(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih dan naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (Q.S. al-Wāqi’ah/56:42-44)


Begitulah gambaran betapa pedih dan beratnya siksaan yang diterima bagi mereka yang ringan timbangan amal kebaikan mereka. Hal ini merupakan balasan yang setimpal dari perbuatan yang dilakukan semasa hidup di dunia.


Kisah Teladan


Penasaran dengan Calon Penghuni Surga


Di salah satu sudut Masjid Nabawi, terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruangan khidmat. Dahulu di tempat itulah, Rasulullah saw. senantiasa berkumpul bermusyawarah bersama


para sahabatnya. Di sana, beliau memberi tausiyah


Suatu ketika, saat Rasulullah saw. memberikan tausiyahnya, tiba-tiba beliau berucap, “Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga.”


Para sahabat pun saling bertatapan, di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiq, Usman bin Affan, Umar bin Khattab, dan beberapa sahabat lainnya. Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang sederhana. Pakaian pemuda itu sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu. Tangan kirinya menenteng sandalnya yang sederhana pula.


Pada kesempatan yang lain, ketika Rasulullah saw. berkumpul dengan para sahabatnya, beliau pun berucap, “Sebentar lagi kamu akan melihat seorang pemuda ahli surga.” Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana.


Para sahabat yang berkumpul pun terheran-heran, siapa gerangan pemuda sederhana itu? Bahkan hingga ketiga kalinya Rasulullah mengatakan hal yang serupa. Bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga.


Seorang sahabat, Abdullah bin Amru bin Ash merasa penasaran. Amalan apa yang dimilikinya sampai-sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga? Maka, Abdullah berusaha mencari tahu. Ia meminta izin kepada ayahnya untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu, Abdullah mengamati setiap amalan pemuda tersebut.


Malam pertama, ketika Abdullah bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu shubuh. Ba’da shubuh, ia membaca al-Qur’An. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih terbata-bata, dan tidak begitu fasih.


Ketika masuk waktu Dhuha, Abdullah bergegas menunaikan salat Dhuha, sementara pemuda itu tidak.


Keesokannya, Abdullah kembali mengamati amalan pemuda tersebut. Malam tanpa tahajjud, ketika membaca al-Qur’an terbata-bata dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak salat Dhuha.


Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama. Bahkan di hari itu, Abdullah berpuasa sunnah, sedangkan pemuda itu tidak.


Abdullah pun makin heran dengan ucapan Rasulullah saw. Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu, tetapi beliau menyebutnya sebagai


pemuda ahli surga. Hingga Abdullah pun langsung mengungkapkan keheranannya pada pemuda itu.


“Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah saw. menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga. Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa salat dhuha, bahkan puasa sunnah pun tidak. Lalu, amal apa yang engkau miliki sehingga Rasul menyebutmu sebagai ahli surga?”


“Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud. Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu salat «huh±. Dan aku pun belum mampu untuk melakukan puasa sunnah. Tetapi ketahuilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru  mampu aku amalkan.”


“Amalan apakah itu?”


“Pertama, aku selalu berusaha jujur, tidak berdusta kepada siapa pun, dan aku juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seseorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt. kepada seseorang.”


Abdullah berkata, “Demi Allah...engkau benar-benar ahli surga. Amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan.”


(Sumber: Kitab Hadis Musnad Ahmad)


Rangkuman


1. Beriman kepada hari kiamat merupakan rukun iman yang kelima.


2. Iman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa seluruh alam termasuk dunia dan seisinya akan mengalami kehancuran ditandai dengan ditiupnya terompet oleh Malaikat Israfil.


3. Para ulama mengelompokkan kiamat menjadi dua macam, yaitu kiamat Sugra dan kiamat Kubra.


4. Setelah kejadian kiamat Kubra yang sangat dahsyat itu, semua manusia akan mati dan mengalami proses kehidupan di alam akhirat yaitu: alam Barzakh, Yaumul Ba’ats, Yaumul Hasyr, Yaumul Mizan/Hisab.


5. Setiap perbuatan baik dan buruk manusia akan menerima balasan dari Allah Swt. seadil-adilnya.


Sumber : ( Buku PAI dan Budi Pekerti Kelas IX Revisi 2018 Kemendikbud )

Read More...

Ibadah Puasa Membentuk Pribadi yang Bertaqwa

tamam badru


Mutiara Khazanah Islam

Puasa merupakan rukun Islam yang keempat. Puasa berasal dari kata “śaumu” yang artinya menahan diri dari segala sesuatu, seperti: menahan makan, minum, hawa nafsu, dan menahan dari bicara yang tidak bermanfaat. Sedangkan arti puasa menurut istilah adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat tertentu, sesuai dengan Firman Allah sebagai berikut :

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ – ١٨٧

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.  (Q.S. al-Baqārah/2 :187)

Setiap orang yang percaya kepada Allah Swr diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadan sebagaimana Firman Allah sebagai berikut :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqārah/2 : 183)

Puasa Wajib

Puasa wajib adalah, puasa yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang sudah balig dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Adapun macam-macam puasa wajib ada empat yaitu :

1. Puasa Ramadan

Puasa Ramadan adalah puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadan yang merupakan rukun Islam keempat. Puasa wajib ini mulai diperintahkan pada tahun kedua hijrah, setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Hukumnya adalah fardu ‘ain.

Agar puasa kita menjadi lebih sempurna dan bermakna, marilah kita pahami ketentuan-ketentuannya.

Syarat wajib puasa

  1. berakal,
  2. balig, dan
  3. mampu berpuasa.

Syarat sahnya puasa

  1. beragama Islam,
  2. mumayiz (sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik,
  3. suci dari darah haid dan nifas, dan
  4. dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

Rukun puasa

a. Niat untuk berpuasa

“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaa’i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta’aalaa.”

Artinya: “Saya berniat puasa Ramadan esok hari untuk menjalankan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini karena mentaati perintah Allah Ta’ala.”

b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Hal-hal yang membatalkan puasa

  1. Makan dan minum
  2. Muntah yang disengaja atau dibuat-buat
  3. Berhubungan suami istri
  4. Keluar darah haid atau nifas bagi perempuan
  5. Gila atau sakit jiwa
  6. Keluar cairan mani dengan sengaja

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa

  1. berdoa ketika berbuka puasa,
  2. memperbanyak sedekah,
  3. c śalat malam, termasuk śalat tarawih, dan
  4. tadarus atau membaca al-Qur’ān.

Hal-hal yang mengurangi pahala puasa

Hal yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa adalah semua perbuatan yang dilarang oleh Islam. Contohnya membicarakan kejelekkan orang lain, berbohong, mencaci maki orang lain, dan sebagainya.

Orang-orang yang boleh berbuka pada bulan Ramadan

  1. berpuasa sakitnya semakin parah. Namun, ia harus menggantikannya di hari lain apabila sudah sembuh nanti.
  2. orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Ia pun wajib mengqada puasanya di hari lain.
  3. orang tua yang sudah lemah sehingga tidak kuat lagi untuk berpuasa. Ia wajib membayar fidyah, yakni bersedekah tiap hari  ¾ liter beras atau yang sama dengan itu kepada fakir miskin.
  4. orang yang sedang hamil dan menyusui anak. Kedua perempuan ini kalau khawatir akan menjadi mudarat kepada dirinya sendiri atau beserta anaknya mereka wajib mengqada puasanya sebagaimana orang yang sedang sakit. Kalau hanya khawatir akan menimbulkan mudarat bagi anaknya, ia wajib mengqada puasanya dan membayar fidyah kepada fakir miskin.

2. Puasa Nazar

Puasa nazar adalah puasa yang dilakukan karena mempunyai nazar (janji kebaikan yang pernah diucapkan). Puasa ini wajib dilaksanakan ketika keinginannya atau cita-citanya terpenuhi.

Adapun hukum puasa nazar adalah wajib dilaksanakan sebagaimana firman Allah Swt sebagai berikut :

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ  – ٧

”Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana”. (Q.S. al-Insān/76:7)

3. Puasa Qada

Puasa qada adalah puasa yang kita niatkan untuk mengganti kewajiban sesudah lewat waktunya. Sebagai contoh orang yang meninggalkan puasa karena sedang haid, berkewajiban mengganti puasa tersebut di bulan yang lainnya. Apabila meninggalkan puasanya enam hari, wajib baginya mengqada enam hari (sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan).

4. Puasa kifarat

Puasa kifarat adalah puasa yang wajib dikerjakan karena melanggar suatu aturan yang telah ditentukan. Puasa kifarat wajib dilaksanakan apabila terjadi hal-hal berikut:

  1. Tidak mampu memenuhi nazar
  2. Berkumpul dengan istri pada siang hari di bulan Ramadan
  3. Membunuh secara tidak sengaja
  4. Melakukan zihar kepada istrinya (menyamakan istri dengan ibunya)
  5. Mencukur rambut ketika ihram
  6. Berburu ketika ihram
  7. Mengerjakan haji dan umrah dengan cara tamatu’ atau qiran

Puasa Sunnah

Selain diperintahkan untuk melaksanakan puasa wajib, kita juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Cara mengerjakannya sama seperti melaksanakan puasa Ramadan, yaitu dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Berikut ini akan diuraikan puasa yang disunnahkan untuk dilaksanakan selain puasa wajib, yaitu:

1. Puasa Syawal

Puasa ini dilaksanakan sesudah tanggal 2 Syawal. Jumlahnya ada enam hari. Cara mengerjakannya boleh dikerjakan enam hari berturut-turut atau boleh juga dilaksanakan dengan cara berselang-seling. Misalnya sehari puasa sehari tidak. Hal ini berdasarkan hadis sebagai berikut yang artinya :

“Dari Abu Ayub, dari Rasulullah saw. berkata : siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, yang demikian itu (pahalanya) seperti puasa setahun.” (H.R. Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i).

2. Puasa Arafah (Tanggal 9 Zulhijjah)

Puasa ini dilaksanakan ketika orang yang melaksanakan ibadah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Sedangkan orang yang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan melaksanakan puasa ini.

Keistimewaan puasa Arafah ini dapat menghapus dosa selama dua tahun: yaitu satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang sebagaimana tertuang dalam Hadis berikut yang artinya:

“ Dari Abu Qatadah, nabi saw., telah berkata,” puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun: satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan datang.”(H.R.Muslim)

3. Puasa Hari Senin dan Kamis

Puasa hari Senin dan Kamis adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana Hadis berikut yang artinya:

“Rasulullah bersabda : Ditempakan amal-amal umatku pada hari Senin dan Kamis dan aku senang amalku ditempakan, maka aku berpuasa”. (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Waktu yang diharamkan untuk berpuasa

  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah
  3. Hari yang diragukan (apakah sudah tanggal satu Ramadan atau belum)

Hikmah Berpuasa

  1. Meningkatkan iman dan takwa serta mendorong seseorang untuk rajin bersyukur kepada allah Swt. Ini merupakan tujuan utama orang yang berpuasa.
  2. Menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama terutama kasih sayang terhadap fakir miskin.
  3. Melatih dan mendidik kesabaran dalam kehidupan sehari-hari karena orang yang berpuasa terdidik menahan kelaparan, kehausan, dan keinginan. Tentulah dengan sabar ia dapat menahan segala kesulitan tersebut.
  4. Dapat mengendalikan hawa nafsunya dari makan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
  5. Mendidik diri sendiri untuk bersifat sidiq karena dengan berpuasa dapat menjaga diri dari sifat pendusta. Sifat ini dapat menghilangkan pahala puasa.
  6. Dengan berpuasa kita juga memberikan waktu istirahat bagi organorgan yang ada di tubuh kita. Sehingga tidak mengherankan bahwa orang yang berpuasa akan menjadi lebih sehat.

Daftar Pustaka : 

Ahsan Muhamad, Sumiyati, & Mustahdi. 2017. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.



Read More...